Tag: PPDB online

  • Cara Membuat Website Sekolah: 3 Jalur, Biaya, dan Langkahnya

    Cara Membuat Website Sekolah: 3 Jalur, Biaya, dan Langkahnya

    Ada tiga jalur untuk membuat website sekolah. Pertama, bikin sendiri pakai WordPress atau platform gratisan, modalnya sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per tahun untuk domain dan hosting, sisanya dibayar pakai waktu dan tenaga. Kedua, sewa platform website sekolah yang sudah jadi, biayanya sekitar Rp1 juta sampai Rp3 juta per tahun. Ketiga, pesan ke pengembang, biayanya mulai Rp3 juta sampai Rp15 juta sekali bangun, tergantung fitur yang diminta.

    Tidak ada jalur yang salah. Yang salah itu memilih jalur tanpa melihat kondisi SDM dan dana sekolah sendiri. Kami menulis panduan ini dari sisi yang jarang dibahas tutorial lain, yaitu pengalaman membangun website sekolah sungguhan untuk klien, salah satunya SMK Sekar Bumi Nusantara. Dari proyek seperti itu kami tahu persis bagian mana yang bikin proyek molor, fitur mana yang akhirnya tidak pernah dipakai, dan kesalahan apa yang paling sering terjadi setelah website jadi.

    Tiga jalur membuat website sekolah, dibandingkan jujur

    Sebelum masuk ke langkah teknis, tentukan dulu jalurnya. Tabel ini rangkuman dari yang kami lihat di lapangan.

    Aspek Bikin sendiri (WordPress) Platform sekolah jadi Pesan ke pengembang
    Biaya Rp500 ribu s.d. Rp1 juta per tahun Rp1 juta s.d. Rp3 juta per tahun Rp3 juta s.d. Rp15 juta sekali bangun
    Waktu sampai jadi 2 s.d. 8 minggu, tergantung waktu luang 1 s.d. 2 minggu 3 s.d. 6 minggu
    Hasil Tergantung kemampuan yang mengerjakan Rapi tapi seragam, template yang sama dipakai banyak sekolah Desain dan fitur mengikuti kebutuhan sekolah
    Beban perawatan Sepenuhnya di sekolah Server dirawat penyedia, konten tetap urusan sekolah Bisa dikontrakkan ke pengembang

    Jalur pertama cocok kalau sekolah punya guru TIK atau staf yang memang mau belajar dan diberi waktu untuk merawat website. Kata kuncinya bukan bisa, tapi mau dan sempat. Banyak guru TIK yang sebenarnya mampu, tapi jam mengajarnya sudah penuh.

    Jalur kedua cocok untuk sekolah yang butuh cepat online dengan anggaran rutin tahunan. Kelemahannya, tampilan dan fitur mengikuti template penyedia. Kalau suatu saat ingin pindah, proses migrasi data kadang tidak mudah karena data ada di sistem mereka.

    Jalur ketiga masuk akal kalau sekolah ingin website jadi wajah resmi lembaga, butuh fitur khusus seperti PPDB online, dan tidak punya SDM untuk urusan teknis. Dana BOS dan dana komite umumnya bisa dipakai untuk ini karena masuk kategori pengembangan sistem informasi sekolah, tinggal sesuaikan dengan juknis yang berlaku di daerah masing-masing. Sekolah swasta biasanya lebih leluasa karena bisa pakai dana yayasan atau komite.

    Rentang harga jalur ketiga memang lebar. Website profil sederhana ada di kisaran bawah, sedangkan angka belasan juta biasanya sudah termasuk fitur seperti PPDB online, halaman per jurusan, dan pelatihan admin. Yang perlu diwaspadai justru penawaran yang terlalu murah tanpa kejelasan siapa yang merawat setelah serah terima, karena di situlah banyak sekolah akhirnya terlantar.

    Urus domain sch.id dulu, jangan pakai .com

    Apa pun jalurnya, alamat website sekolah sebaiknya pakai domain sch.id, misalnya namasekolah.sch.id. Alasannya sederhana. Domain sch.id hanya bisa didaftarkan oleh lembaga pendidikan yang bisa menunjukkan dokumen resmi. Orang tua yang membuka website dengan alamat sch.id tahu bahwa situs itu benar milik sekolah, bukan situs abal-abal. Domain .com bisa dibeli siapa saja tanpa syarat, jadi nilai kepercayaannya lebih rendah untuk lembaga pendidikan.

    Secara umum, registrar yang mengikuti ketentuan PANDI meminta dua hal untuk pendaftaran sch.id:

    • KTP penanggung jawab domain, biasanya kepala sekolah atau staf yang ditunjuk
    • SK pendirian lembaga dari instansi berwenang, atau surat permohonan resmi bertanda tangan kepala sekolah dengan kop surat sekolah

    Detail persyaratan bisa sedikit berbeda antar registrar, jadi cek langsung di tempat Anda mendaftar. Prosesnya sendiri tidak lama. Setelah dokumen diunggah dan diverifikasi, domain biasanya aktif dalam satu sampai tiga hari kerja. Harganya murah, umumnya di bawah Rp100 ribu per tahun.

    Satu saran penting dari kami: daftarkan domain atas nama lembaga dengan email resmi sekolah, bukan email pribadi guru. Simpan juga salinan dokumen pendaftaran dan data akun registrar di arsip tata usaha. Alasannya kami bahas di bagian kesalahan umum, karena kehilangan akses domain adalah masalah yang paling merepotkan untuk dipulihkan.

    Siapkan konten dulu, ini yang paling sering bikin molor

    Ini bagian yang hampir tidak pernah dibahas tutorial lain. Dari pengalaman kami mengerjakan website sekolah, penyebab proyek molor hampir tidak pernah masalah teknis. Yang bikin lama itu menunggu konten dari pihak sekolah. Website sudah siap, tapi halaman profil masih kosong karena teks belum dikirim.

    Jadi sebelum menyentuh urusan teknis atau menghubungi pengembang, siapkan dulu bahan-bahan ini:

    • Profil sekolah: sejarah singkat, visi misi, dan akreditasi. Cukup 3 sampai 5 paragraf, tidak perlu panjang
    • Foto asli kegiatan sekolah. Upacara, praktikum, ekstrakurikuler, lomba. Foto asli jauh lebih meyakinkan daripada foto stok, walau kualitasnya foto HP biasa
    • Data guru dan staf yang boleh dipublikasikan. Minta izin dulu, karena tidak semua guru nyaman nama dan fotonya tampil di internet. Untuk foto siswa, terutama yang wajahnya terlihat jelas, sebaiknya ada persetujuan orang tua lewat surat edaran di awal tahun ajaran
    • Struktur organisasi terbaru
    • Kalender akademik tahun berjalan
    • Informasi PPDB: jadwal, syarat, alur pendaftaran, dan kontak panitia
    • Kontak resmi: alamat lengkap, nomor telepon aktif, email sekolah, dan titik lokasi di Google Maps

    Kalau bahan ini sudah lengkap sejak awal, jalur mana pun yang dipilih akan jalan jauh lebih cepat. Website yang kami kerjakan bisa selesai sesuai jadwal justru karena kliennya rajin menyetor konten.

    Struktur halaman minimal yang layak untuk website sekolah

    Website sekolah tidak perlu banyak halaman untuk terlihat profesional. Yang penting halaman intinya ada dan isinya terawat:

    • Beranda: identitas sekolah, foto unggulan, dan pengumuman terbaru
    • Profil: sejarah, visi misi, akreditasi, struktur organisasi
    • Guru dan staf
    • Berita dan agenda kegiatan
    • Galeri foto
    • Halaman PPDB atau pendaftaran
    • Kontak

    Daftar fitur yang lebih lengkap beserta prioritasnya sudah kami tulis di artikel fitur website sekolah yang wajib ada.

    Satu catatan jujur soal fitur. Ada beberapa fitur yang sering diminta di awal tapi jarang benar-benar dipakai setelah website jalan. Forum diskusi hampir selalu sepi karena semua orang sudah di grup WhatsApp. E-learning penuh di website sekolah biasanya kalah praktis dibanding Google Classroom yang sudah dipakai guru. Fitur yang terbukti paling berguna justru yang sederhana: pengumuman yang rutin diperbarui, galeri foto kegiatan, dan halaman PPDB yang jelas.

    Khusus PPDB online, fitur ini memang layak dipertimbangkan serius karena dipakai setiap tahun dan mengurangi antrean pendaftaran fisik. Penjelasan lengkapnya ada di artikel apa itu PPDB online.

    Langkah teknis kalau memilih bikin sendiri

    Kalau sekolah memutuskan jalur pertama, urutan kerjanya seperti ini:

    1. Beli hosting dan daftarkan domain sch.id. Paket hosting sekitar Rp300 ribu sampai Rp600 ribu per tahun sudah cukup untuk website sekolah biasa
    2. Install WordPress. Hampir semua penyedia hosting punya installer sekali klik
    3. Pilih tema yang sederhana dan ringan. Tema gratis bawaan WordPress pun tidak masalah, yang penting rapi dan cepat dibuka dari HP
    4. Buat halaman inti sesuai struktur di atas, isi dengan konten yang sudah disiapkan
    5. Pasang plugin backup otomatis dan aktifkan pembaruan keamanan. Dua hal ini sering dilewati, padahal paling penting

    Estimasi waktu 2 sampai 8 minggu itu bukan waktu kerja penuh, tapi realita orang mengerjakan ini di sela tugas utama. Kalau ada satu orang yang bisa fokus, dua minggu cukup.

    Setelah website tayang, ada dua langkah kecil yang sering dilupakan. Pertama, buka website dari HP dan minta beberapa rekan mencobanya juga, karena mayoritas orang tua mengakses dari ponsel. Kedua, daftarkan website ke Google Search Console supaya muncul di hasil pencarian ketika orang mengetik nama sekolah. Dua langkah ini gratis dan selesai dalam satu sore.

    Kapan jalur ini masuk akal? Kalau ada guru atau staf yang memang tertarik, diberi SK tugas yang jelas, dan sekolah sadar konsekuensinya: kalau orang itu pindah tugas, harus ada serah terima akses dan pengetahuan. Kalau syarat itu tidak terpenuhi, lebih aman ambil jalur platform sewa atau pengembang.

    Kesalahan umum setelah website jadi

    Membuat website itu baru setengah pekerjaan. Setengahnya lagi adalah merawatnya, dan di sinilah kebanyakan website sekolah gagal. Ini pola yang paling sering kami temui:

    Website tidak pernah diupdate. Berita terakhir dua tahun lalu, kalender akademik masih tahun ajaran lama. Website seperti ini justru menurunkan citra sekolah di mata orang tua. Solusinya bukan teknologi, tapi penugasan: tunjuk satu admin resmi dengan SK, lalu buat jadwal posting minimal dua konten per bulan. Dokumentasi kegiatan sekolah selalu ada, tinggal difoto dan ditulis tiga paragraf.

    Akun penting pakai email pribadi. Domain, hosting, dan admin website didaftarkan pakai Gmail pribadi seorang guru. Ketika guru itu mutasi atau resign, sekolah kehilangan akses ke websitenya sendiri. Kasus seperti ini nyata dan sering. Selalu pakai email resmi sekolah yang kredensialnya dipegang lembaga, bukan perorangan.

    Tidak ada backup. Website kena hack atau server bermasalah, dan seluruh konten bertahun-tahun hilang karena tidak pernah ada cadangan. Backup otomatis mingguan itu gratis lewat plugin, cukup sekali setting. Simpan salinannya di luar server, misalnya di Google Drive milik akun sekolah, supaya kalau servernya yang bermasalah, cadangannya tetap aman.

    Konten hasil salin tempel. Beberapa website sekolah mengisi halaman berita dengan artikel yang disalin dari situs lain agar terlihat aktif. Ini percuma. Orang tua mencari kabar sekolah anaknya, bukan artikel umum yang bisa mereka temukan di mana saja. Tiga paragraf tentang lomba antar kelas jauh lebih berharga daripada sepuluh artikel salinan.

    Biaya perawatan tahunan dan kapan sebaiknya ke pengembang

    Website sekolah punya biaya rutin yang perlu masuk anggaran tahunan. Rinciannya kira-kira begini:

    • Perpanjangan domain sch.id: di bawah Rp100 ribu per tahun
    • Perpanjangan hosting: Rp300 ribu sampai Rp600 ribu per tahun
    • Perawatan teknis kalau dikontrakkan: Rp500 ribu sampai Rp2 juta per tahun, mencakup update sistem, backup, pemantauan keamanan, dan perbaikan ketika ada error

    Kalau dirawat sendiri, biaya perawatan teknis nol rupiah, tapi tugasnya tetap harus dikerjakan seseorang: update WordPress dan plugin tiap bulan, cek backup jalan atau tidak, dan memperbaiki kalau ada halaman rusak.

    Lalu kapan sebaiknya langsung ke pengembang? Menurut kami, jalur ini paling masuk akal dalam tiga kondisi. Pertama, sekolah butuh fitur di luar kemampuan template, misalnya PPDB online dengan verifikasi berkas dan pengumuman hasil seleksi. Kedua, tidak ada SDM yang bisa ditugaskan mengurus teknis dalam jangka panjang. Ketiga, sekolah ingin tampilan yang mencerminkan identitasnya sendiri, bukan template yang sama dengan puluhan sekolah lain.

    Kalau kondisi sekolah Anda masuk salah satu dari tiga itu, silakan lihat layanan jasa pembuatan website sekolah dari kami. Di sana ada rincian paket, harga, dan apa saja yang termasuk perawatan. Kalau belum, tidak apa-apa. Mulai saja dari jalur yang sesuai kemampuan sekarang, karena website sederhana yang terawat selalu lebih baik daripada website canggih yang terbengkalai.

    Pertanyaan yang sering ditanyakan

    Berapa biaya membuat website sekolah?

    Tergantung jalurnya. Bikin sendiri sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per tahun untuk domain dan hosting. Sewa platform jadi sekitar Rp1 juta sampai Rp3 juta per tahun. Pesan ke pengembang mulai Rp3 juta sampai Rp15 juta sekali bangun, ditambah biaya perawatan tahunan kalau dikontrakkan.

    Apakah website sekolah bisa dibuat gratis?

    Bisa, pakai Google Sites atau WordPress.com versi gratis. Tapi alamatnya bukan sch.id dan ada batasan fitur serta iklan. Untuk website resmi lembaga pendidikan, kami sarankan minimal keluar biaya domain sch.id dan hosting, karena alamat resmi itu yang membuat orang tua percaya.

    Berapa lama proses pembuatan website sekolah?

    Kalau konten sudah disiapkan lengkap, platform sewa bisa online dalam 1 sampai 2 minggu, pengembang butuh 3 sampai 6 minggu, dan bikin sendiri 2 sampai 8 minggu tergantung waktu luang pengerjanya. Faktor penentu terbesar bukan teknis, tapi kecepatan sekolah menyiapkan konten.

  • Kenapa Pesantren Perlu Website Resmi: Manfaat dan Kapan Memulai

    Coba hitung, dalam seminggu berapa kali pengurus pesantren menjawab pertanyaan yang sama lewat telepon atau WhatsApp. Kapan pendaftaran dibuka. Berapa biayanya. Apa saja yang perlu dibawa saat mengantar anak. Kapan jadwal penjengukan. Pertanyaannya itu-itu terus, tapi tetap harus dijawab satu per satu, setiap hari.

    Di sisi lain, ada calon wali santri di luar kota yang sedang mencari pesantren untuk anaknya. Dia mengetik nama pesantren di Google. Yang muncul cuma titik lokasi di Maps dan beberapa unggahan Facebook lama. Tidak ada profil resmi, tidak ada info pendaftaran, tidak ada foto asrama. Akhirnya dia lanjut mencari pesantren lain yang informasinya lebih jelas.

    Dua kejadian ini sebenarnya satu masalah yang sama: informasi pesantren belum punya rumah resmi di internet. Artikel ini membahas kenapa pesantren perlu website, dilihat dari orang-orang yang benar-benar membutuhkannya, plus kapan waktu terbaik untuk memulai.

    Pertanyaan yang sama, dijawab berulang setiap hari

    Waktu kami membangun sistem informasi untuk Pesantren Al-Muttaqin, ada satu hal yang langsung terasa saat menggali kebutuhan bersama pengurus. Beban terbesar admin dan ustadz bagian kesekretariatan bukan pekerjaan yang rumit. Bebannya justru pekerjaan sederhana yang berulang: menjawab pertanyaan wali santri dan calon pendaftar, satu per satu, lewat telepon dan chat.

    Pertanyaan yang masuk hampir selalu seputar hal yang sama. Syarat pendaftaran. Rincian biaya. Jadwal kegiatan. Aturan penjengukan. Kalau dihitung, sebagian besar jawaban itu sebenarnya bisa ditulis sekali lalu dibaca ribuan kali. Itulah fungsi paling dasar dari sebuah website: menjawab pertanyaan yang berulang tanpa harus ada orang yang standby mengetik balasan.

    Efeknya bukan cuma soal hemat waktu. Jawaban lewat chat yang diketik buru-buru di sela kesibukan rawan tidak lengkap atau berbeda-beda antar pengurus. Wali santri yang satu dapat info biaya versi lama, yang lain dapat versi baru, lalu keduanya bingung. Ketika jawaban resminya ada di satu halaman yang sama, semua orang membaca informasi yang seragam dan pengurus tinggal mengirim tautannya.

    Ini juga alasan kenapa pembahasan manfaat website pesantren sebaiknya tidak berhenti di kalimat umum seperti “meningkatkan citra lembaga”. Manfaatnya lebih konkret dari itu, dan paling mudah dilihat kalau kita urai per pihak yang berkepentingan.

    Manfaat website pesantren, dilihat dari tiap pihak yang membutuhkannya

    Untuk wali santri: informasi resmi satu pintu

    Wali santri yang anaknya mondok jauh dari rumah hidup dengan banyak pertanyaan. Kapan libur maulid. Kapan ujian semester. Berapa tagihan bulan ini. Tanpa sumber resmi, jawaban dicari lewat grup WhatsApp wali santri, dan di grup, informasi cepat tenggelam atau malah berubah bentuk setelah diteruskan beberapa kali.

    Website resmi memberi satu pintu yang jelas. Pengumuman ditulis sekali oleh pengurus, semua wali santri membaca versi yang sama. Kalau ada kabar simpang siur, cukup satu kalimat: cek website resmi pesantren. Bagi pengurus, ini juga bentuk perlindungan. Informasi resmi ada jejaknya, tanggalnya jelas, dan tidak bisa diklaim orang lain.

    Untuk penerimaan santri baru: menjangkau keluarga di luar kota

    Cara orang memilih pesantren sudah berubah. Dulu rekomendasi datang dari kyai kampung atau saudara. Sekarang rekomendasi itu tetap ada, tapi hampir selalu dilanjutkan dengan satu langkah: mencari nama pesantrennya di Google. Calon wali santri ingin melihat sendiri profil pesantren, program tahfidz atau kitabnya, kondisi asrama, dan biaya, sebelum memutuskan datang survei.

    Pesantren yang tidak ditemukan di pencarian praktis tidak ikut dipertimbangkan oleh keluarga di luar kota. Bukan karena kualitasnya kurang, tapi karena informasinya tidak sampai. Sebaliknya, pesantren yang punya halaman profil dan halaman penerimaan santri baru yang rapi bisa menjangkau pendaftar dari provinsi lain tanpa menambah satu pun kegiatan promosi keliling.

    Ada satu detail yang sering luput. Keluarga yang riset lewat Google biasanya membandingkan tiga sampai lima pesantren sekaligus sebelum memutuskan mana yang akan disurvei langsung. Di tahap ini, pesantren dinilai dari informasi yang tersedia, bukan dari kualitas pengajarannya. Info biaya yang jelas, alur pendaftaran yang runtut, dan foto lingkungan yang jujur seringkali sudah cukup untuk masuk daftar survei. Yang informasinya tidak ada, gugur diam-diam tanpa pernah tahu bahwa dirinya sempat dipertimbangkan.

    Untuk kepercayaan publik dan donatur

    Banyak pesantren hidup berdampingan dengan amanah umat: wakaf, infaq pembangunan, beasiswa santri yatim. Donatur zaman sekarang, apalagi lembaga dan perusahaan penyalur CSR, hampir pasti mengecek dulu sebelum transfer. Yang dicek sederhana: apakah lembaganya jelas, apakah kegiatannya nyata, apakah ada laporan penggunaan dana sebelumnya.

    Website resmi menjawab tiga hal itu sekaligus. Profil yayasan dan legalitas bisa ditampilkan. Progres pembangunan bisa didokumentasikan berkala. Laporan program bisa dipublikasikan terbuka. Kepercayaan tidak dibangun oleh desain yang mewah, tapi oleh informasi yang jujur dan bisa diverifikasi.

    Untuk dokumentasi dakwah dan kegiatan

    Setiap pesantren punya kekayaan yang sering tidak terdokumentasi: kajian rutin, khataman, haflah akhirussanah, prestasi santri di lomba. Selama ini dokumentasi tersebar di ponsel panitia dan hilang bersama pergantian pengurus. Website menjadi arsip yang menetap. Kajian yang ditulis ulang menjadi artikel bisa terus dibaca orang bertahun-tahun kemudian, dan itu bagian dari dakwah yang pahalanya terus berjalan tanpa menambah beban kegiatan baru.

    Website resmi dan media sosial itu beda peran, bukan saling menggantikan

    Sering muncul anggapan bahwa pesantren yang sudah aktif di Instagram tidak perlu website lagi. Singkatnya begini: media sosial bagus untuk kabar harian dan menyapa alumni, tapi unggahannya cepat tenggelam, sulit dicari lagi, dan akunnya bukan milik pesantren sepenuhnya. Website adalah alamat resmi yang menetap, bisa ditemukan lewat Google, dan strukturnya bisa diatur untuk kebutuhan informasi yang serius seperti pendaftaran dan profil lembaga. Idealnya keduanya jalan bersama. Pembahasan lengkapnya sudah kami tulis di artikel website pesantren vs Instagram.

    Kapan waktu terbaik pesantren mulai membuat website

    Jawaban singkatnya: jauh sebelum musim penerimaan santri baru, bukan saat sudah kepepet.

    Alasannya praktis. Website baru butuh waktu untuk dikerjakan, diisi konten, lalu dikenali Google. Prosesnya bisa memakan satu sampai tiga bulan sampai halaman pesantren benar-benar muncul saat namanya dicari. Kalau website baru dibuat sebulan sebelum pendaftaran dibuka, calon wali santri yang riset dari jauh hari sudah terlanjur menimbang pesantren lain.

    Waktu paling nyaman biasanya justru setelah musim penerimaan selesai. Pengurus sedang tidak sibuk-sibuknya, ada jeda untuk mengumpulkan bahan seperti profil, foto, dan rincian program, dan website punya waktu cukup untuk matang sebelum dipakai kerja keras di musim pendaftaran berikutnya.

    Selain soal kalender, ada juga tanda-tanda bahwa pesantren sebenarnya sudah butuh website sekarang, bukan nanti:

    • Pertanyaan yang sama dari wali santri dan calon pendaftar datang hampir setiap hari
    • Mulai ada pendaftar atau penanya dari luar kota dan luar provinsi
    • Pesantren sedang menggalang dana pembangunan dan butuh tempat memajang progres
    • Informasi resmi sering tersebar simpang siur lewat grup WhatsApp
    • Saat nama pesantren dicari di Google, yang muncul justru konten pihak lain

    Kalau dua saja dari tanda itu sudah terasa, menunda setahun lagi artinya menjalani satu musim penerimaan lagi dengan cara lama.

    Keraguan yang wajar dari dalam pesantren, dan jawabannya yang jujur

    Khawatir kyai atau pengasuh belum berkenan. Ini keraguan yang harus dihormati, bukan diterobos. Pengalaman kami, jalan paling baik adalah mulai dari yang disepakati bersama. Tidak semua hal harus tampil di internet. Website bisa dimulai hanya dengan profil, sejarah, program pendidikan, dan info pendaftaran. Hal-hal yang dianggap ranah dalam pesantren tetap di dalam. Biasanya setelah manfaatnya terasa, ruang untuk konten lain terbuka dengan sendirinya, atas ridho pengasuh.

    Tidak ada yang mengurus. Ini keberatan paling sering, dan jawabannya lebih ringan dari yang dibayangkan. Website pesantren bukan media online yang harus terbit tiap hari. Halaman inti seperti profil dan info pendaftaran cukup diperbarui beberapa kali setahun. Untuk kabar kegiatan, satu santri senior atau ustadz muda dengan jadwal ringan, misalnya satu tulisan tiap dua pekan, sudah membuat website terlihat hidup. Banyak pesantren justru menjadikan ini media latihan menulis bagi santrinya.

    Soal biaya. Wajar kalau ini jadi pertimbangan, dan lebih baik dibicarakan terbuka. Untuk website profil pesantren yang layak, kisarannya umumnya mulai sekitar tiga sampai tujuh juta rupiah, ditambah biaya domain dan hosting sekitar ratusan ribu sampai satu jutaan per tahun. Kalau kebutuhannya sampai sistem informasi santri dan keuangan, angkanya berbeda lagi. Rinciannya sudah kami bahas jujur di artikel panduan biaya sistem pesantren. Sebagai pembanding, biaya ini seringkali setara dengan biaya satu kali cetak brosur dan spanduk untuk satu musim penerimaan, tapi masa pakainya bertahun-tahun.

    Mulai dari yang sederhana, yang penting resmi

    Website pesantren tidak harus langsung lengkap. Justru yang sering gagal adalah proyek yang terlalu ambisius di awal: ingin sekaligus ada portal santri, pembayaran online, dan macam-macam fitur, lalu berhenti di tengah jalan karena berat.

    Mulai saja dari empat halaman yang paling sering ditanyakan orang: profil dan sejarah, program pendidikan, informasi penerimaan santri baru, dan kontak. Empat halaman itu sudah menjawab mayoritas pertanyaan yang selama ini masuk lewat telepon. Fitur lanjutan seperti PPDB online atau galeri kegiatan bisa menyusul bertahap sesuai kesiapan pengurus. Kalau ingin tahu fitur apa saja yang layak diprioritaskan, kami sudah mengulasnya di artikel fitur website pesantren yang wajib ada.

    Kalau pengurus sudah sepakat ingin mulai tapi tidak ada tenaga teknis di dalam, Arrazy Inovasi Teknologi biasa mendampingi pesantren dari nol: dari diskusi kebutuhan bersama pengurus, pembuatan website, sampai pelatihan singkat supaya santri atau ustadz yang ditunjuk bisa mengelola sendiri. Silakan lihat detailnya di halaman jasa pembuatan website pesantren, atau konsultasikan dulu kebutuhannya, gratis dan tanpa keharusan lanjut.

    Pertanyaan yang sering diajukan

    Apakah pesantren kecil dengan santri sedikit tetap perlu website?

    Perlu, justru karena kecil. Pesantren besar sudah dikenal dari mulut ke mulut selama puluhan tahun. Pesantren kecil dan baru tidak punya kemewahan itu, sehingga website sering menjadi satu-satunya cara calon santri dari luar daerah menemukan dan menilai pesantren tersebut. Skalanya saja yang disesuaikan, cukup website profil sederhana dulu.

    Berapa lama proses pembuatan website pesantren sampai bisa digunakan?

    Untuk website profil, pengerjaan teknisnya umumnya dua sampai empat pekan. Yang sering lebih lama justru pengumpulan bahan dari pesantren: profil, foto, dan rincian program. Setelah tayang, butuh sekitar satu sampai tiga bulan sampai website mapan di hasil pencarian Google. Karena itu mulailah jauh sebelum musim pendaftaran.

    Siapa yang sebaiknya mengelola website setelah jadi?

    Cukup satu penanggung jawab, misalnya ustadz bagian kesekretariatan atau santri senior yang tertarik menulis. Tugas rutinnya ringan: memperbarui pengumuman dan menerbitkan kabar kegiatan secara berkala. Hal teknis seperti perpanjangan domain dan perawatan sistem bisa diserahkan ke penyedia jasa sehingga pengurus fokus di konten saja.