Tag: PPDB online

  • Cara Membuat Website Sekolah: 3 Jalur, Biaya, dan Langkahnya

    Cara Membuat Website Sekolah: 3 Jalur, Biaya, dan Langkahnya

    Ada tiga jalur untuk membuat website sekolah. Pertama, bikin sendiri pakai WordPress atau platform gratisan, modalnya sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per tahun untuk domain dan hosting, sisanya dibayar pakai waktu dan tenaga. Kedua, sewa platform website sekolah yang sudah jadi, biayanya sekitar Rp1 juta sampai Rp3 juta per tahun. Ketiga, pesan ke pengembang, biayanya mulai Rp3 juta sampai Rp15 juta sekali bangun, tergantung fitur yang diminta.

    Tidak ada jalur yang salah. Yang salah itu memilih jalur tanpa melihat kondisi SDM dan dana sekolah sendiri. Kami menulis panduan ini dari sisi yang jarang dibahas tutorial lain, yaitu pengalaman membangun website sekolah sungguhan untuk klien, salah satunya SMK Sekar Bumi Nusantara. Dari proyek seperti itu kami tahu persis bagian mana yang bikin proyek molor, fitur mana yang akhirnya tidak pernah dipakai, dan kesalahan apa yang paling sering terjadi setelah website jadi.

    Tiga jalur membuat website sekolah, dibandingkan jujur

    Sebelum masuk ke langkah teknis, tentukan dulu jalurnya. Tabel ini rangkuman dari yang kami lihat di lapangan.

    Aspek Bikin sendiri (WordPress) Platform sekolah jadi Pesan ke pengembang
    Biaya Rp500 ribu s.d. Rp1 juta per tahun Rp1 juta s.d. Rp3 juta per tahun Rp3 juta s.d. Rp15 juta sekali bangun
    Waktu sampai jadi 2 s.d. 8 minggu, tergantung waktu luang 1 s.d. 2 minggu 3 s.d. 6 minggu
    Hasil Tergantung kemampuan yang mengerjakan Rapi tapi seragam, template yang sama dipakai banyak sekolah Desain dan fitur mengikuti kebutuhan sekolah
    Beban perawatan Sepenuhnya di sekolah Server dirawat penyedia, konten tetap urusan sekolah Bisa dikontrakkan ke pengembang

    Jalur pertama cocok kalau sekolah punya guru TIK atau staf yang memang mau belajar dan diberi waktu untuk merawat website. Kata kuncinya bukan bisa, tapi mau dan sempat. Banyak guru TIK yang sebenarnya mampu, tapi jam mengajarnya sudah penuh.

    Jalur kedua cocok untuk sekolah yang butuh cepat online dengan anggaran rutin tahunan. Kelemahannya, tampilan dan fitur mengikuti template penyedia. Kalau suatu saat ingin pindah, proses migrasi data kadang tidak mudah karena data ada di sistem mereka.

    Jalur ketiga masuk akal kalau sekolah ingin website jadi wajah resmi lembaga, butuh fitur khusus seperti PPDB online, dan tidak punya SDM untuk urusan teknis. Dana BOS dan dana komite umumnya bisa dipakai untuk ini karena masuk kategori pengembangan sistem informasi sekolah, tinggal sesuaikan dengan juknis yang berlaku di daerah masing-masing. Sekolah swasta biasanya lebih leluasa karena bisa pakai dana yayasan atau komite.

    Rentang harga jalur ketiga memang lebar. Website profil sederhana ada di kisaran bawah, sedangkan angka belasan juta biasanya sudah termasuk fitur seperti PPDB online, halaman per jurusan, dan pelatihan admin. Yang perlu diwaspadai justru penawaran yang terlalu murah tanpa kejelasan siapa yang merawat setelah serah terima, karena di situlah banyak sekolah akhirnya terlantar.

    Urus domain sch.id dulu, jangan pakai .com

    Apa pun jalurnya, alamat website sekolah sebaiknya pakai domain sch.id, misalnya namasekolah.sch.id. Alasannya sederhana. Domain sch.id hanya bisa didaftarkan oleh lembaga pendidikan yang bisa menunjukkan dokumen resmi. Orang tua yang membuka website dengan alamat sch.id tahu bahwa situs itu benar milik sekolah, bukan situs abal-abal. Domain .com bisa dibeli siapa saja tanpa syarat, jadi nilai kepercayaannya lebih rendah untuk lembaga pendidikan.

    Secara umum, registrar yang mengikuti ketentuan PANDI meminta dua hal untuk pendaftaran sch.id:

    • KTP penanggung jawab domain, biasanya kepala sekolah atau staf yang ditunjuk
    • SK pendirian lembaga dari instansi berwenang, atau surat permohonan resmi bertanda tangan kepala sekolah dengan kop surat sekolah

    Detail persyaratan bisa sedikit berbeda antar registrar, jadi cek langsung di tempat Anda mendaftar. Prosesnya sendiri tidak lama. Setelah dokumen diunggah dan diverifikasi, domain biasanya aktif dalam satu sampai tiga hari kerja. Harganya murah, umumnya di bawah Rp100 ribu per tahun.

    Satu saran penting dari kami: daftarkan domain atas nama lembaga dengan email resmi sekolah, bukan email pribadi guru. Simpan juga salinan dokumen pendaftaran dan data akun registrar di arsip tata usaha. Alasannya kami bahas di bagian kesalahan umum, karena kehilangan akses domain adalah masalah yang paling merepotkan untuk dipulihkan.

    Siapkan konten dulu, ini yang paling sering bikin molor

    Ini bagian yang hampir tidak pernah dibahas tutorial lain. Dari pengalaman kami mengerjakan website sekolah, penyebab proyek molor hampir tidak pernah masalah teknis. Yang bikin lama itu menunggu konten dari pihak sekolah. Website sudah siap, tapi halaman profil masih kosong karena teks belum dikirim.

    Jadi sebelum menyentuh urusan teknis atau menghubungi pengembang, siapkan dulu bahan-bahan ini:

    • Profil sekolah: sejarah singkat, visi misi, dan akreditasi. Cukup 3 sampai 5 paragraf, tidak perlu panjang
    • Foto asli kegiatan sekolah. Upacara, praktikum, ekstrakurikuler, lomba. Foto asli jauh lebih meyakinkan daripada foto stok, walau kualitasnya foto HP biasa
    • Data guru dan staf yang boleh dipublikasikan. Minta izin dulu, karena tidak semua guru nyaman nama dan fotonya tampil di internet. Untuk foto siswa, terutama yang wajahnya terlihat jelas, sebaiknya ada persetujuan orang tua lewat surat edaran di awal tahun ajaran
    • Struktur organisasi terbaru
    • Kalender akademik tahun berjalan
    • Informasi PPDB: jadwal, syarat, alur pendaftaran, dan kontak panitia
    • Kontak resmi: alamat lengkap, nomor telepon aktif, email sekolah, dan titik lokasi di Google Maps

    Kalau bahan ini sudah lengkap sejak awal, jalur mana pun yang dipilih akan jalan jauh lebih cepat. Website yang kami kerjakan bisa selesai sesuai jadwal justru karena kliennya rajin menyetor konten.

    Struktur halaman minimal yang layak untuk website sekolah

    Website sekolah tidak perlu banyak halaman untuk terlihat profesional. Yang penting halaman intinya ada dan isinya terawat:

    • Beranda: identitas sekolah, foto unggulan, dan pengumuman terbaru
    • Profil: sejarah, visi misi, akreditasi, struktur organisasi
    • Guru dan staf
    • Berita dan agenda kegiatan
    • Galeri foto
    • Halaman PPDB atau pendaftaran
    • Kontak

    Daftar fitur yang lebih lengkap beserta prioritasnya sudah kami tulis di artikel fitur website sekolah yang wajib ada.

    Satu catatan jujur soal fitur. Ada beberapa fitur yang sering diminta di awal tapi jarang benar-benar dipakai setelah website jalan. Forum diskusi hampir selalu sepi karena semua orang sudah di grup WhatsApp. E-learning penuh di website sekolah biasanya kalah praktis dibanding Google Classroom yang sudah dipakai guru. Fitur yang terbukti paling berguna justru yang sederhana: pengumuman yang rutin diperbarui, galeri foto kegiatan, dan halaman PPDB yang jelas.

    Khusus PPDB online, fitur ini memang layak dipertimbangkan serius karena dipakai setiap tahun dan mengurangi antrean pendaftaran fisik. Penjelasan lengkapnya ada di artikel apa itu PPDB online.

    Langkah teknis kalau memilih bikin sendiri

    Kalau sekolah memutuskan jalur pertama, urutan kerjanya seperti ini:

    1. Beli hosting dan daftarkan domain sch.id. Paket hosting sekitar Rp300 ribu sampai Rp600 ribu per tahun sudah cukup untuk website sekolah biasa
    2. Install WordPress. Hampir semua penyedia hosting punya installer sekali klik
    3. Pilih tema yang sederhana dan ringan. Tema gratis bawaan WordPress pun tidak masalah, yang penting rapi dan cepat dibuka dari HP
    4. Buat halaman inti sesuai struktur di atas, isi dengan konten yang sudah disiapkan
    5. Pasang plugin backup otomatis dan aktifkan pembaruan keamanan. Dua hal ini sering dilewati, padahal paling penting

    Estimasi waktu 2 sampai 8 minggu itu bukan waktu kerja penuh, tapi realita orang mengerjakan ini di sela tugas utama. Kalau ada satu orang yang bisa fokus, dua minggu cukup.

    Setelah website tayang, ada dua langkah kecil yang sering dilupakan. Pertama, buka website dari HP dan minta beberapa rekan mencobanya juga, karena mayoritas orang tua mengakses dari ponsel. Kedua, daftarkan website ke Google Search Console supaya muncul di hasil pencarian ketika orang mengetik nama sekolah. Dua langkah ini gratis dan selesai dalam satu sore.

    Kapan jalur ini masuk akal? Kalau ada guru atau staf yang memang tertarik, diberi SK tugas yang jelas, dan sekolah sadar konsekuensinya: kalau orang itu pindah tugas, harus ada serah terima akses dan pengetahuan. Kalau syarat itu tidak terpenuhi, lebih aman ambil jalur platform sewa atau pengembang.

    Kesalahan umum setelah website jadi

    Membuat website itu baru setengah pekerjaan. Setengahnya lagi adalah merawatnya, dan di sinilah kebanyakan website sekolah gagal. Ini pola yang paling sering kami temui:

    Website tidak pernah diupdate. Berita terakhir dua tahun lalu, kalender akademik masih tahun ajaran lama. Website seperti ini justru menurunkan citra sekolah di mata orang tua. Solusinya bukan teknologi, tapi penugasan: tunjuk satu admin resmi dengan SK, lalu buat jadwal posting minimal dua konten per bulan. Dokumentasi kegiatan sekolah selalu ada, tinggal difoto dan ditulis tiga paragraf.

    Akun penting pakai email pribadi. Domain, hosting, dan admin website didaftarkan pakai Gmail pribadi seorang guru. Ketika guru itu mutasi atau resign, sekolah kehilangan akses ke websitenya sendiri. Kasus seperti ini nyata dan sering. Selalu pakai email resmi sekolah yang kredensialnya dipegang lembaga, bukan perorangan.

    Tidak ada backup. Website kena hack atau server bermasalah, dan seluruh konten bertahun-tahun hilang karena tidak pernah ada cadangan. Backup otomatis mingguan itu gratis lewat plugin, cukup sekali setting. Simpan salinannya di luar server, misalnya di Google Drive milik akun sekolah, supaya kalau servernya yang bermasalah, cadangannya tetap aman.

    Konten hasil salin tempel. Beberapa website sekolah mengisi halaman berita dengan artikel yang disalin dari situs lain agar terlihat aktif. Ini percuma. Orang tua mencari kabar sekolah anaknya, bukan artikel umum yang bisa mereka temukan di mana saja. Tiga paragraf tentang lomba antar kelas jauh lebih berharga daripada sepuluh artikel salinan.

    Biaya perawatan tahunan dan kapan sebaiknya ke pengembang

    Website sekolah punya biaya rutin yang perlu masuk anggaran tahunan. Rinciannya kira-kira begini:

    • Perpanjangan domain sch.id: di bawah Rp100 ribu per tahun
    • Perpanjangan hosting: Rp300 ribu sampai Rp600 ribu per tahun
    • Perawatan teknis kalau dikontrakkan: Rp500 ribu sampai Rp2 juta per tahun, mencakup update sistem, backup, pemantauan keamanan, dan perbaikan ketika ada error

    Kalau dirawat sendiri, biaya perawatan teknis nol rupiah, tapi tugasnya tetap harus dikerjakan seseorang: update WordPress dan plugin tiap bulan, cek backup jalan atau tidak, dan memperbaiki kalau ada halaman rusak.

    Lalu kapan sebaiknya langsung ke pengembang? Menurut kami, jalur ini paling masuk akal dalam tiga kondisi. Pertama, sekolah butuh fitur di luar kemampuan template, misalnya PPDB online dengan verifikasi berkas dan pengumuman hasil seleksi. Kedua, tidak ada SDM yang bisa ditugaskan mengurus teknis dalam jangka panjang. Ketiga, sekolah ingin tampilan yang mencerminkan identitasnya sendiri, bukan template yang sama dengan puluhan sekolah lain.

    Kalau kondisi sekolah Anda masuk salah satu dari tiga itu, silakan lihat layanan jasa pembuatan website sekolah dari kami. Di sana ada rincian paket, harga, dan apa saja yang termasuk perawatan. Kalau belum, tidak apa-apa. Mulai saja dari jalur yang sesuai kemampuan sekarang, karena website sederhana yang terawat selalu lebih baik daripada website canggih yang terbengkalai.

    Pertanyaan yang sering ditanyakan

    Berapa biaya membuat website sekolah?

    Tergantung jalurnya. Bikin sendiri sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per tahun untuk domain dan hosting. Sewa platform jadi sekitar Rp1 juta sampai Rp3 juta per tahun. Pesan ke pengembang mulai Rp3 juta sampai Rp15 juta sekali bangun, ditambah biaya perawatan tahunan kalau dikontrakkan.

    Apakah website sekolah bisa dibuat gratis?

    Bisa, pakai Google Sites atau WordPress.com versi gratis. Tapi alamatnya bukan sch.id dan ada batasan fitur serta iklan. Untuk website resmi lembaga pendidikan, kami sarankan minimal keluar biaya domain sch.id dan hosting, karena alamat resmi itu yang membuat orang tua percaya.

    Berapa lama proses pembuatan website sekolah?

    Kalau konten sudah disiapkan lengkap, platform sewa bisa online dalam 1 sampai 2 minggu, pengembang butuh 3 sampai 6 minggu, dan bikin sendiri 2 sampai 8 minggu tergantung waktu luang pengerjanya. Faktor penentu terbesar bukan teknis, tapi kecepatan sekolah menyiapkan konten.

  • Website Pondok Pesantren: Manfaat, Isi Minimal, dan Kapan Memulai

    Website pondok pesantren adalah alamat resmi pondok di internet: tempat calon wali santri membaca profil, program, biaya, dan alur pendaftaran, sekaligus tempat wali santri yang sudah ada mencari pengumuman yang pasti benar. Manfaatnya terasa langsung: pertanyaan yang sama tidak perlu dijawab berulang lewat WhatsApp, pondok bisa ditemukan lewat Google, dan informasi resmi punya satu sumber. Artikel ini membahas manfaat website pesantren, isi minimal yang perlu ada, bedanya dengan Instagram, pilihan domain, dan kapan waktu terbaik untuk mulai.

    Kenapa Pesantren Perlu Website Resmi

    Coba hitung, dalam seminggu berapa kali pengurus menjawab pertanyaan yang sama. Kapan pendaftaran dibuka. Berapa biayanya. Apa saja yang dibawa saat mengantar anak. Kapan jadwal penjengukan. Pertanyaannya itu-itu saja, tapi tetap dijawab satu per satu.

    Di sisi lain, ada calon wali santri di luar kota yang mengetik nama pondok di Google. Yang muncul hanya titik di Maps dan unggahan Facebook lama. Tidak ada profil, tidak ada info pendaftaran, tidak ada foto asrama. Dia lanjut mencari pondok lain yang informasinya lebih jelas.

    Dua kejadian ini satu masalah: informasi pesantren belum punya rumah resmi. Saat kami menggali kebutuhan bersama pengurus untuk SIM-Pesantren Al-Muttaqin, beban admin yang paling terasa bukan pekerjaan rumit. Bebannya justru pekerjaan sederhana yang berulang, yaitu menjawab pertanyaan wali dan calon pendaftar lewat telepon dan chat. Sebagian besar jawaban itu bisa ditulis sekali lalu dibaca berkali-kali. Itulah fungsi paling dasar sebuah website pesantren.

    Manfaat Website Pesantren untuk Tiap Pihak

    Kalimat seperti “meningkatkan citra lembaga” terlalu umum. Manfaatnya lebih mudah dilihat kalau diurai per pihak.

    Wali santri: informasi resmi satu pintu

    Wali santri yang anaknya mondok jauh hidup dengan banyak pertanyaan: kapan libur, kapan ujian, kapan jadwal kunjungan. Tanpa sumber resmi, jawabannya dicari di grup WhatsApp, dan di grup informasi cepat tenggelam atau berubah setelah diteruskan beberapa kali. Dengan website, pengumuman ditulis sekali, semua membaca versi yang sama, dan ada tanggalnya. Kalau ada kabar simpang siur, pengurus cukup bilang: cek website resmi.

    Penerimaan santri baru: dijangkau keluarga di luar kota

    Rekomendasi dari saudara atau kyai kampung tetap penting. Tapi hampir selalu dilanjutkan dengan satu langkah: mencari nama pondoknya di Google. Keluarga biasanya membandingkan beberapa pondok sekaligus sebelum memutuskan mana yang disurvei. Di tahap ini pondok dinilai dari informasi yang tersedia. Info biaya yang jelas, alur pendaftaran yang runtut, dan foto lingkungan yang jujur sering sudah cukup untuk masuk daftar survei. Pondok yang informasinya tidak ada gugur diam-diam. Cara website membantu proses pendaftaran kami bahas di artikel website untuk PPDB pesantren.

    Donatur dan masyarakat: amanah yang bisa dicek

    Banyak pondok hidup dari wakaf, infaq pembangunan, dan beasiswa santri yatim. Donatur, apalagi lembaga penyalur CSR, hampir pasti mengecek dulu: apakah yayasannya jelas, kegiatannya nyata, dan laporannya ada. Website bisa menampilkan profil yayasan, progres pembangunan, dan laporan program secara terbuka. Kepercayaan dibangun oleh informasi yang jujur, bukan desain yang mewah.

    Arsip dakwah dan kegiatan

    Kajian rutin, khataman, haflah akhirussanah, prestasi santri. Dokumentasinya sering tersebar di HP panitia dan hilang saat pengurus berganti. Website menjadi arsip yang menetap. Ringkasan kajian yang ditulis ulang bisa terus dibaca bertahun-tahun kemudian.

    Website Pondok Pesantren vs Instagram dan Media Sosial

    Pertanyaan yang sering muncul dari pengurus: “Instagram kami sudah ramai, masih perlu website?” Jawabannya: keduanya berguna, tapi perannya beda. Tabel ini merangkum perbedaannya.

    Aspek Website resmi Instagram / media sosial
    Kekuatan utama Informasi resmi yang tersusun dan menetap Kabar harian, suasana, dan interaksi dengan alumni
    Ditemukan lewat Google Bisa, per halaman (profil, biaya, pendaftaran) Terbatas, biasanya hanya profil akunnya
    Mencari info biaya atau syarat Ada di halaman khusus, terbaca dalam hitungan detik Harus menggulir unggahan lama atau kirim DM lalu menunggu
    Formulir pendaftaran Bisa dipasang langsung Tidak ada, harus diarahkan ke tautan lain
    Kepemilikan Domain dan isi milik pondok Akun tunduk pada aturan platform, bisa dibatasi atau diretas
    Umur konten Tetap bisa dicari bertahun-tahun Cepat tenggelam di linimasa
    Biaya Ada biaya domain, hosting, dan pembuatan Gratis, tapi butuh orang yang rutin mengunggah

    Pola yang paling masuk akal: Instagram untuk menarik perhatian dan menunjukkan suasana, website untuk informasi resmi dan pendaftaran. Tautan di bio Instagram mengarah ke halaman pendaftaran di website. Kalau anggaran baru cukup untuk salah satu dan pondok sedang butuh pendaftar dari luar daerah, dahulukan website, karena informasi yang rapi dan bisa dicari lebih menentukan keputusan keluarga daripada unggahan harian.

    Isi Minimal Website Pesantren

    Website tidak harus langsung lengkap. Proyek yang terlalu ambisius di awal justru sering berhenti di tengah jalan. Mulai dari halaman yang paling sering ditanyakan orang:

    • Profil dan sejarah: pengasuh, yayasan, visi misi, legalitas.
    • Program pendidikan: tahfidz, kitab, sekolah formal bila ada, jadwal harian.
    • Penerimaan santri baru: syarat, rincian biaya, jadwal, alur pendaftaran.
    • Kontak dan lokasi: alamat, peta, nomor yang aktif, jam layanan.
    • Pengumuman dan kabar kegiatan: cukup diperbarui berkala.
    Contoh halaman utama website pondok pesantren dengan profil, program, dan info pendaftaran
    Halaman utama website pondok pesantren yang kami bangun: profil, program, dan pendaftaran langsung terlihat dari halaman depan.

    Lima bagian itu sudah menjawab sebagian besar pertanyaan yang biasa masuk lewat telepon. Fitur lanjutan seperti formulir PSB online, galeri, atau portal wali santri bisa menyusul. Urutan prioritasnya kami ulas di artikel fitur website pesantren.

    Memilih Domain: .ponpes.id, .sch.id, atau .or.id

    Domain resmi menambah kepercayaan karena tidak bisa didaftarkan sembarang orang. Pilihannya tergantung bentuk lembaga:

    Domain Untuk siapa Dokumen yang umumnya diminta
    .ponpes.id Pondok pesantren Surat keterangan dari pimpinan pondok dan KTP penanggung jawab
    .sch.id Sekolah atau madrasah formal, misalnya SMP/MTs di bawah yayasan pondok Surat dari kepala sekolah dan data sekolah
    .or.id Organisasi atau yayasan Dokumen legalitas yayasan dan KTP penanggung jawab

    Aturan domain diatur PANDI dan persyaratan bisa berbeda sedikit antar registrar, jadi cek ulang daftar dokumen saat mendaftar. Pondok yang punya sekolah formal kadang memakai .ponpes.id untuk pondok dan .sch.id untuk sekolahnya. Kalau bingung soal pemisahan ini, baca perbedaan website pesantren dan website sekolah.

    Kapan Waktu Terbaik Mulai Membuat Website

    Jawaban singkatnya: jauh sebelum musim penerimaan santri baru, bukan saat sudah kepepet.

    Website baru butuh waktu untuk dikerjakan, diisi konten, lalu dikenali Google. Lamanya tidak bisa dipastikan, tapi hampir tidak pernah instan. Kalau website baru tayang sebulan sebelum pendaftaran dibuka, keluarga yang riset dari jauh hari sudah menimbang pondok lain.

    Waktu paling nyaman biasanya justru setelah musim pendaftaran selesai. Pengurus lebih longgar, ada jeda untuk mengumpulkan profil, foto, dan rincian program, dan website punya waktu untuk matang sebelum musim berikutnya.

    Tanda pondok sudah butuh website sekarang:

    • Pertanyaan yang sama dari wali dan calon pendaftar datang hampir setiap hari.
    • Mulai ada penanya dari luar kota atau luar provinsi.
    • Pondok sedang menggalang dana pembangunan dan butuh tempat memajang progres.
    • Informasi resmi sering simpang siur di grup WhatsApp.
    • Saat nama pondok dicari di Google, yang muncul justru konten pihak lain.

    Kalau dua saja dari tanda itu sudah terasa, menunda setahun berarti menjalani satu musim pendaftaran lagi dengan cara lama.

    Keraguan yang Wajar dari Dalam Pondok

    Pengasuh belum berkenan. Keraguan ini harus dihormati. Mulai dari yang disepakati bersama: profil, program, dan info pendaftaran. Hal yang dianggap ranah dalam pondok tetap di dalam. Ruang untuk konten lain biasanya terbuka setelah manfaatnya terasa.

    Tidak ada yang mengurus. Website pesantren bukan media berita. Halaman inti cukup diperbarui beberapa kali setahun. Untuk kabar kegiatan, satu ustadz muda atau santri senior dengan jadwal ringan sudah cukup membuat website terlihat hidup.

    Biaya. Biaya website tergantung jumlah halaman dan fitur. Kalau kebutuhannya meluas ke sistem internal seperti data santri dan tagihan, hitungannya berbeda lagi. Rinciannya kami bahas di panduan biaya sistem pesantren.

    Pertanyaan yang Sering Diajukan

    Apakah pesantren kecil tetap perlu website?

    Perlu, justru karena kecil. Pondok besar sudah dikenal dari mulut ke mulut. Pondok kecil dan baru tidak punya kemewahan itu, sehingga website sering jadi cara utama keluarga dari luar daerah menemukan dan menilai pondok tersebut. Cukup mulai dari website profil sederhana.

    Apakah Instagram saja tidak cukup?

    Instagram bagus untuk kabar harian, tapi sulit dipakai mencari info biaya atau syarat, tidak punya formulir pendaftaran, dan akunnya tunduk pada aturan platform. Jalankan keduanya: Instagram untuk menarik perhatian, website untuk informasi resmi dan pendaftaran.

    Domain apa yang sebaiknya dipakai website pondok pesantren?

    Untuk pondok, .ponpes.id paling jelas menunjukkan identitas lembaga. Sekolah formal di bawah yayasan bisa memakai .sch.id, dan yayasan bisa memakai .or.id. Siapkan surat dari pimpinan dan KTP penanggung jawab saat mendaftar.

    Siapa yang mengelola website setelah jadi?

    Cukup satu penanggung jawab, misalnya ustadz bagian kesekretariatan. Tugasnya memperbarui pengumuman dan kabar kegiatan. Urusan teknis seperti perpanjangan domain, keamanan, dan perawatan bisa diserahkan ke penyedia jasa.

    Mulai dari yang Sederhana, yang Penting Resmi

    Website pondok pesantren yang baik tidak harus mewah. Yang penting resmi, informasinya benar, dan menjawab pertanyaan yang paling sering datang. Kalau pengurus sudah sepakat ingin mulai tapi tidak ada tenaga teknis di dalam, tim Arrazy biasa mendampingi dari diskusi kebutuhan, pembuatan, sampai pelatihan singkat untuk pengelola. Lihat detailnya di halaman jasa website pesantren, atau konsultasikan kebutuhan pondok kamu lebih dulu.